PMI Hadiri lokakarya nasional shelter dan pemukiman yang digelar Kemensos

481

Palang Merah Indonesia (PMI) turut hadir dalam acara lokakarya nasional shelter dan pemukiman yang laksananakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies atau Federasi Palang Merah Internasional (IFRC).

Kegiatan lokakarya nasional ini digelar di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dari mulai tanggal 19-23 Agustus 2019 dengan diikuti sejumlah tamu undangan dari berbagai tokoh dan lembaga seperti Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, dan Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah, Sekda Prov Sulteng, serta perwakilan IFRC dan berbagai lembaga dan organisasi kemanusiaan lainnya

Selain itu dalam kesempatan yang sama juga dihadiri oleh jajaran dari PMI pusat seperti Ketua Bidang Penanganan Bencana, Letjen TNI (Purn) Sumarsono, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana, Arifin M.Hadi, serta Kepala Sub Tanggap Darurat dan Pemulihan PMI Pusat, Ridwan S Carman.

“PMI sebagai dari bagian anggota Sub Klaster Shelter telah ikut andil bagian dalam proses peningkatan kapasitas para relawannya dengan berbagai pelatihan shelter dan pemukiman,” ungkap Kepala Sub Tanggap Darurat dan Pemulihan PMI Pusat, Ridwan S Carman, saat dihubungi melalui pesan whatsapp

Selain itu menurutnya, saat ini PMI juga dalam perjalanannya sudah ikut berkontribusi dalam pembuatan buku panduan shelter serta melakukan sosialisasi tentang pengendalian Asbestos dalam Situasi Bencana.

(Sejumlah anggota Taruna Siaga Bencana) melaksanakan Performing Art : Safe Removal Asbestos di Lokakarya Nasional Shelter dan Pemukiman,19-20 Agustus 2109, Lombok – NTB)

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat, dalam siaran Pers mengatakan, pada setiap kejadian bencana kebutuhan shelter adalah kebutuhan yang paling besar dan paling mendesak. Namun, demikian menyiapkan shelter bukan sekedar menyiapkan bangunan tempat tinggal baru untuk penyintas.

“Memberikan shelter kepada masyarakat terdampak bencana berarti mendengarkan mereka, mendukung mereka sesuai dengan metode pilihan yang paling tepat bagi setiap keluarga dengan mempertimbangkan kesetaraan gender, pendekatan yang inklusif, serta menghargai suara dari yang tua (lansia) hingga yang muda (anak-anak),” ujarnya.

Dalam proses penyediaan shelter, warga didampingi dalam menyediakan tempat berlindung yang layak dimana setiap orang memiliki pilihan tersendiri untuk pulih dari dampak bencana.

Jadi, shelter tidak hanya mengenai desain dan kualitas material, namun juga memastikan bantuan yang diberikan memberikan keamanan, kenyamanan, bermartabat, dan memuluskan proses transisi.

Harry mengatakan penanganan bencana tidak selalu harus mendirikan posko pengungsian terpusat, lalu mengumpulkan para penyintas ke dalam satu lokasi yang sama.

“Cara pandang seperti ini tidak salah, namun alangkah lebih baik jika kita memberikan kesempatan para penyintas untuk memilih tempat tinggal sementara di rumah sanak saudara atau tetangga yang aman dari bencana,” ucapnya pula.

Dalam kesempatan itu, Harry juga memaparkan sub klaster shelter telah melakukan penelitian termasuk pengujian laboratorium yang menunjukkan bahwa puing-puing reruntuhan yang ditemukan di Lombok mengandung asbestos dalam kadar yang membahayakan bagi kesehatan manusia.

“Untuk itu salah satu upaya Kemensos pada lokakarya tersebut adalah meluncurkan Panduan Pengendalian Asbestos dalam Situasi Bencana,” katanya.

Hal itu, kata dia, merupakan salah satu capaian di antara banyak hal yang telah dilakukan oleh Sub Klaster Shelter seperti peningkatan kapasitas, mengkoordinasikan sebanyak 260 lembaga di bidang shelter, pembuatan buku panduan shelter untuk kemanusiaan.

“Tentu saja hal ini tidak akan dapat terlaksana tanpa dukungan komitmen yang diberikan oleh International Federation of Red Cross and Red Cressents Societies/ Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC),” katanya.

Lokakarya nasional Kemensos bersama IFRC membahas dua agenda berskala regional, yakni pertemuan regional untukGlobal Shelter Cluster team, dan Asia-Pacific Regional Shelter Practitioners Forum.

Lokakarya dengan tema “Mendukung Masyarakat Bertransisi Secara Aman, Nyaman, Bermartabat, dan Berpusat pada Masyarakat”, tersebut digelar dalam rangka memperingati satu tahun gempa Lombok dan peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang jatuh pada 19 Agustus 2019.